Uncategorized

Flatulensi

Kentut

Peristiwa keluarnya gas melalui anus atau dubur akibat akumulasi gas di dalam perut itulah yang disebut flatulensi atau kentut (wikipedia).

Demi estetika saya kerap menahan kentut saat berada di keramaian. Di keluarga besar saya, kentut menjadi tabu bila dikeluarkan di depan orang yang lebih tua. Kentut pun menjadi jarang terdengar saat keluarga besar saya tengah berkumpul. Kecuali bila kentut sudah tak tertahan atau tanpa sengaja terlepas begitu saja. Tentu hal itu akan menjadi sebuah kehebohan. Entah apakah menjadi pemantik tawa atau justru menyulut pertengkaran.

***

Mungkin hal ini tidak hanya terjadi di keluarga besar saya saja. Mungkin, kebanyakan orang pun akan melakukan hal yang serupa seperti yang berlaku dalam keluarga besar saya. Yaitu menahan kentut bila berada di tempat umum. Karena begitulah estetika mengentut yang saya ketahui selama ini.




Berawal dari kentut beragam kisah berhasil saya dapat. Mulai dari yang lucu hingga berakhir murka pernah saya jumpai. Di rumah, kentut mampu menyulut pertengkaran antara adik dan kakak. Di sekolah, kentut menjadi sebab kegaduhan. Namun, tak jarang kentut pun mendatangkan tawa. Untungnya, tak ada kentut yang berujung pada permusuhan.

***
Bicara soal kentut, otak saya kok ya terkenang pada kisah lucu di sebuah makan malam di rumah. Yaitu saat liburan sekolah tiba dan saya kembali pulang ke rumah orang tua. Lalu tak jemu menyeruput kehangatan sentuhan emak tersayang. Perkara lawas yang mungkin saja tak penting bagi yang lain namun cukup memiliki arti bagi diri saya.

Yup, pada malam itu duduklah saya, emak, bapak dan kedua kakak saya. Kami mengelilingi meja makan bundar yang terbuat dari kaca. Makanan yang tersaji sungguh mengundang selera. Gulai ayam, rendang, sambal lado tanak, sambal lado ijo, jariang batokok lado merah, dan gulai daun singkong ikan teri. Emak memasak itu semua karena anak-anaknya sedang menikmati masa libur panjang sekolah. Iya, bapak lebih mempercayakan anak-anaknya mengenyam pendidikan di tanah seberang. Karena itulah kami bertiga dikirim bersekolah ke Pulau Jawa.

Menyantap hidangan emak membuat peluh bercucuran. Butiran-butiran keringat mengalir deras. Konsentrasi tertuju pada piring masing-masing. Tak ada yang mencoba mengalihkan perhatian dari kelezatan masakan emak. Karena nikmat yang kami dapat bisalah disandingkan dengan restoran Padang yang terkenal itu.

Ketika tengah asik-asiknya menikmati setiap kunyahan. Tiba-tiba seseorang melepaskan gas tanpa permisi. Bunyinya tidak terlampau besar, tapi cukup terdengar oleh kami semua. Sontak aktvitas santap menyantap hidangan istimewa amak pun terhenti. Berganti mata yang saling mencurigai.




“Hehe .. upik takantuik,” kata emak kepada bapak yang tengah melotot mencari asal muasal gas yang terlepas tanpa sengaja itu. Bapak tampak sangat tidak suka acara makan malam kali ini terganggu oleh bunyi kentut. Tapi kali ini lain cerita. Emak adalah isteri tercintanya. Kami jarang melihat bapak memarahi emak. Bahkan bisa dibilang bapak tidak pernah melakukannya. Kami menunggu reaksi apa yang akan diberikan bapak kepada emak. Emak menatap bapak sembari menahan senyum. Mungkin karena pelakunya adalah kekasih pujaan hati. Bapak bisa memaklumi insiden kecil ini.

Bapak pun tersenyum simpul. Kami pun lega dan tak lama tawa kami berderai. Terlebih ketiga anaknya, terpingkal-pingkal karena melihat ekspresi pengakuan Emak yang lucu. Sayangnya keceriaan itu tak bertahan lama. Bapak sadar emak telah melakukan hal yang tidak sopan. Senyum simpul bapak segera menghilang. Tawa kamipun ikut lenyap. Mata bapak seketika melotot ke arah emak. Emak balik menatap bapak dengan senyum tertahan. Kami, anak-anaknya, hanya diam tak berani bersuara. Jangan coba-coba mengeluarkan sepatah kata pun bila bapak sudah menunjukkan gelagat seperti itu. Bisa-bisa diamuk tanpa ampun oleh bapak. Karenanya kami hanya membisu, menanti kelanjutan cerita.

“Hehe … maaf upik indak sangajo, kalapeh,” seru emak kemudian. Selarik senyum emak coba hadirkan guna mencairkan suasana makan malam nan kaku. Melihat emak seperti itu menggoda kami untuk ikut tersenyum. Namun, kami mencoba untuk tidak tersenyum. Bapak tidak boleh melihat bibir kami membentuk sebuah lengkungan. Meskipun ujung-ujung bibir itu pun sempat mengembang sedikit tetapi segera kembali. Itu karena bapak makin menunjukkan rasa tidak sukanya .

Tatapan bapak menyapu wajah kami satu per satu. Kedua bola mata bapak berhenti pada wanita di sebelahnya. Ditatapnya emak lebih lama lalu berdiri meninggalkan meja makan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Tak lama emak pun mengikuti langkah kaki bapak. Sesaat ujung mata saya sempat menangkap sebuah senyum tertahan di raut tua emak.

***

Ah, gara-gara kentut emak harus merasa tak enak. Gara-gara kentut bapak menjadi marah. Gara-gara kentut makan malam terasa tak nikmat. Tapi, kalau tak kentut body bisa-bisa tak selamat. Kentut tak keluar, sehat pun tak didapat. Maka berbahagialah kamu yang masih bisa mengeluarkan kentut. Berarti kamu sehat. Selamat!!!

Tabik!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *