Kesehatan / Uncategorized

Kisah Kemanusiaan Tanpa Batas

Not A Target

not a target
“Serangan udara telah menghantam rumah sakit yang dikelola oleh MSF. Investigasi menyatakan ledakan yang terjadi adalah karena human eror. Padahal titik koordinat letak rumah sakit yang kami kelola tiap minggu selalu kami kirim. Itu adalah prosedur yang harus kami lalui bila berada di daerah konflik. Namun, kenyataannya rumah sakit kerap menjadi target dalam peperangan. Bom dijatuhkan tidak hanya sekali waktu saja. Namun berulang kali. ”

Juni 2016, Dr Lukman Hakim ditugaskan di Abs, Yaman. Beliau adalah pekerja lapangan MSF. Tenaga medis yang berasal dari Indonesia. Pada Agustus 2016, rumah sakit yang dikelola oleh MSF di Abs terkena bom. 11 orang meninggal, 19 korban mengalami luka-luka. Kepada kami, saya dan beberapa kawan blogger, beliau mengisahkan pengalamannya selama bertugas di Abs, Yaman.

NEW

“Di tempat yang tinggi, yang mudah tampak dari atas, di atap-atap rumah sakit yang dikelola oleh organisasi-organisasi kemanusiaan, wajib memberikan tanda berupa palang merah, untuk menunjukkan bahwa gedung digunakan sebagai tempat menolong orang-orang yang terluka akibat peperangan.”




Hukum Humaniter Internasional seharusnya menjadi jaminan keamanan bagi penggiat aksi-aksi kemanusiaan di daerah konflik. Namun yang terjadi di Abs, Yaman, dan daerah-daerah konflik lainnya, rumah sakit justru kerap dijadikan target dalam peperangan. Meski tanda palang merah telah ditorehkan di atap gedung tersebut.

Phumeza Tisile Penderita Extremely Drug Resistant TB (XDR-TB)

XDR-TB can be cured. The story of Phumeza Tisile.

Phumeza Tisile menghabiskan 2 tahun waktunya nya demi mengkonsumsi lebih dari 20 pil obat setiap hari. Dia menderita TBC yang kebal terhadap beberapa jenis obat. Ya, Phumeza Tisile menderita Extremely Drug Resistant TB (XDR-TB).

Di bawah pengawasan MSF, Phumeza Tisile akhirnya terbebas dari XDR-TB. Kini, dia sembuh dan sehat, namun Phumeza Tisile kehilangan pendengarannya. Kamu bisa melihat bagaimana kisah Phumeza Tisile saat melawan penyakit yang dideritanya melalui blog milik Phumeza Tisile ini.

Kisah Sonia dari Bangui, Republik Afrika Tengah

Giving Birth in Central African Republic 2014

Sonia, 21 tahun, mendatangi rumah sakit MSF di kamp M’ Poko, lapangan terbang Bangui, Republik Afrika Tengah, untuk melahirkan. Dua bulan sebelumnya, Sonia sedang hamil tujuh bulan saat pertikaian menghancurkan kota Bangui. Hingga hari ini, lebih dari 30.000 warga masih mengungsi di berbagai tenda-tenda sempit dengan sanitasi seadanya yang tersebar di seluruh kota, atau di sekolah, masjid dan gereja di Bangui.

Médecins Sans Frontières (MSF)

logo
Di negeri ini, kita menyebutnya Dokter Lintas Batas. Sementara di negara Paman Sam, mereka lebih dikenal dengan nama Doctors Without Borders. Di Perancis, orang-orang memanggilnya Médecins Sans Frontières. Atau sebut saja MSF untuk memudahkan kita mengingatnya.

Médecins Sans Frontières merupakan oraganisasi kemanusiaan medis internasional yang didirikan pada tahun 1971. Saat ini, MSF sudah hadir di 70 negera untuk memberikan layanan kesehatan kepada penduduk yang membutuhkan. Aktivitas MSF mencakup perawatan kesehatan dasar, layanan kesehatan ibu dan anak, pembedahan, upaya menangani wabah, merehabilitasi dan mengelola rumah sakit dan klinik, vaksinasi massal, mengoperasikan pusat-pusat gizi, layanan kesehatan jiwa, serta memberikan pelatihan kepada tenaga kesehatan setempat.

Melalui program-program kemanusiaan, MSF memberikan pengobatan kepada para penderita penyakit menular seperti tuberkulosis, HIV/AIDS dan Leishmaniasis di seluruh dunia. TIM MSF terdiri dari tenaga medis maupun non-medis, staf nasional dan internasional.

Sebagai organisasi medis, kegiatan MSF menjunjung tinggi etika kedokteran. Prinsip MSF adalah memberikan bantuan berdasarkan kebutuhan tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, gender maupun pandangan politik. Pendanaan MSF 92 % berasal dari donatur individu dan 7 % dari donasi lembaga publik guna memastikan operasional yang independent.

No Borders

MSF No Borders Poster_Landscape
Kemanusiaan tanpa batas. Begitulah yang saya lihat dari kisah yang saya terima saat temu blogger bersama MSF pada 26 November lalu. Bertempat di Bakoel Koffie Cikini, Jakarta, cerita nan menyesakkan dada mengalir getir mengalahkan pahitnya Es Capucino yang saya pesan.

Tidak. Tulisan ini belum mampu memvisualkan tragedi-tragedi yang terjadi di daerah-daerah konflik. Kalimat-kalimat saya masih gagal menerjemahkan bagaimana Sonia, perempuan yang berasal dari Bangui, Republik Afrika Tengah, melewati masa sulitnya. Tak ada kata yang tepat untuk merefleksikan perjuangan Phumeza Tisile dalam melawan penyakitnya.

Namun, melalui pameran foto yang diselenggarakan oleh MSF, kamu dapat turut merasakan seperti apa realitas yang dihadapi oleh pasien-pasien yang ditangani oleh MSF, petugas kesehatan, dan orang-orang yang berada di bagian dunia yang berbeda. Melalui lensa dari beberapa jurnalis foto terkenal di dunia, MSF akan membawa kamu ke tempat-tempat yang jarang dilalui.

Francesco Zizola, Paula Bronstein, Yuri Kozyrev dan Gael Turine adalah beberapa nama fotojurnalis yang karya akan ditampilkan. Datang dan dengarkan suara-suara dari orang-orang yang terjebak dalam krisis kemanusiaan.

MSF No Borders Poster_Portrait

PHOTO EXHIBITION & FILM SCREENING

08 – 18 December 2016
11 AM – 9 PM
GRAND INDONESIA
WEST MALL / 5TH FLOOR
EXHIBITION HALL
Untuk detail lebih lanjut silakan kunungi dua link di bawah ini.
www.msf-seasia.org/Indonesia
fb.com/msf.Indonesia

16 Comments

  1. wah pamera fotonya di jakarta yah.
    wah enggak tahu bisa dateng atau tidak ini.
    tapi yang pasti saya doakan untuk para pekerja humanitarian Indonesia agar selalu berjuang dan berkarya melakukan kebaikan

Leave a Reply to fanny fristhika nila Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *