Uncategorized

Potret Kehidupan “Penjaga Sekolah”

Tepat pukul 09.00, aku kembali lagi ke sekolah putri sulungku. Bel sekolah tentu sudah lama berbunyi. Pintu-pintu kelas tertutup rapat. Tempat parkir yang biasanya penuh terisi, di pagi itu hanya tampak satu, dua buah mobil dan beberapa motor milik para guru. Kondisi ini mempermudahku memarkirkan roda dua yang kian hari kian tampak tua dan rapuh.   Dari area parkir, kuedarkan pandangan ke pintu gerbang sekolah. Tampaknya Pak Sarmadi telah meninggalkan pos penjaga. Padahal, lelaki itu yang sedang kucari. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan kepada beliau. Tak jauh dari tempatku berdiri, kulihat Pak Mayar, petugas kebersihan sekolah, tengah membersihkan salah satu mobil milik seorang guru. Petugas kebersihan ini pun masuk daftar orang yang harus kutemui di hari itu. Baiklah, akan kumulai kisahku kali ini melalui Pak Mayar terlebih dahulu.   ***

DSC01916
Pak Mayar

Seember air dan sebuah lap menemani Pak Mayar dalam menjalankan tugasnya. Mobil itu hampir usai dibersihkan ketika sapa pertama kulayangkan kepadanya. Basa basi diawal tidak menghentikan gerak tangannya menyapukan lap basah ke badan mobil. Hingga sebuah pertanyaan dariku berhasil mengambil alih perhatian Pak Mayar tertuju ke obrolan kami. “Sudah berapa lama Pak Mayar menjadi petugas kebersihan di sekolah ini?” tanyaku. “Wah sudah lama bu, saya masuk ke sekolah ini tahun 1998.” Belasan tahun mengabdi sebagai petugas kebersihan sekolah. Namun predikat yang disandingnya masih saja sama. Yaitu sebagai pegawai honorer. Keinginan terbesarnya tentu saja mengubah status honorernya menjadi PNS.

Beberapa kali Pak Mayar mengajukan diri mengikuti tes CPNS. Sayang, semua usahanya itu belum membuahkan hasil yang sesuai dengan harapan. “Tesnya susah bu. Saya gak bisa menjawab soal-soal yang diberikan.” “Bukankah sebelum tes tersebut ada pelatihan?” “Iya, tapi bagi saya soal-soal yang harus saya kerjakan itu masih terasa sulit bu. Gak sesuai dengan pendidikan saya.” Pertambahan usia akan mempengaruhi daya tangkap seseorang. Pelatihan bukan bekal yang cukup bagi Pak Mayar. Tes-tes yang dihadapi pun kian tak termakan. Sehingga meski pengajuan CPNS disetujui, sayang tes CPNS tidak dapat dilalui. Bincang kami pun terhenti dengan kemunculan Pak Sarmadi. Seragam putih biru kerap menemani hari-hari Pak Madi. Seketika Pak Mayar pun kembali melanjutkan tugasnya yang tertunda seraya berkata. “Ibu ini lagi mencari  informasi untuk bahan lomba pak. Ibu, tanya-tanya aja sama Pak Madi ya,” serunya lalu kembali sibuk membersihkan mobil.

DSC01902
kiri : Pak Sarmadi , kanan : almarhum Bang Eka

Pak Sarmadi adalah satpam sekolah. Bertugas menjaga keamanan sekolah mewajibkan Pak Madi harus selalu waspada terhadap aktivitas-aktivitas yang tidak wajar. Seperti percakapanku dengan Pak Mayar adalah hal yang tidak biasa dilakukan. Bukan berarti aku tidak pernah sama sekali bercakap-cakap dengan beliau. Namun, pemilihan waktu yang tidak biasa inilah yang menjadi pembedanya.   Pak Madi mengabdi di sekolah anakku ini jauh lebih singkat tinimbang Pak Mayar. Beliau mulai bekerja sebagai satpam sekolah SDN Pulogebang 02 pada tahun 2008. Keinginannya pun tidak jauh berbeda dengan Pak Mayar, ingin menjadi PNS. Memang, PNS hampir selalu berhasil menarik minat para pencari nafkah.   “Di sekolah ini bu, untuk bagian pegawai rendahan seperti kami baru Pak Urip yang menjadi PNS.” jelas Pak Madi.   Pak Urip adalah penjaga sekolah.   Tiga orang ini, Pak Mayar, Pak Madi dan Pak Urip masih lebih beruntung jika dibandingkan dengan Bang Eka. Bang Eka tidak menjabat apa pun di lingkungan sekolah. Memberi keamanan bagi anak-anak saat menyeberangi jalan raya adalah lakon yang diperankan oleh Bang Eka. Sederhana  memang yang dilakukannya, namun keberadaan Bang Eka memberi kemudahan banyak orang dalam menghadapi padatnya lalu lintas di muka sekolah.   ***   Kisah ini pun beralih ke sebuah tk islam yang berada di lingkungan perumahanku. Pak Rofiq Hidayat, beliau adalah orang yang dipercaya sebagai penjaga sekolah. Anak-anak murid TK Al Izazah suka sekali bermain dengan Pak Rofiq. Ayah dari 3 orang anak ini menempati salah satu ruang di sekolah sebagai tempat dia melepas penat. Dua minggu sekali Pak Rofiq akan pergi ke Bogor. Menemui isteri dan anak-anaknya.   “Apa suka dukanya menjadi penjaga sekolah pak?” tanyaku suatu ketika.   “Sukanya saya bekerja dengan orang-orang yang baik dan ramah bun. Dukanya pas ada kejadian-kejadian di luar pekiraan saat anak dalam pengawasan saya bun.”   Hari-hari Pak Rofiq selalui diwarnai celoteh murid-murid TK Al Izzah nan lucu dan menggemaskan. Seperti Pak Rofiq Cantik. Panggil anak tk A menggoda. Atau, Pak Rofiq gendong aku donk. Yup, digendong lalu diuncal ke atas dan disambut kembali masih menjadi mainan favorit anak-anak. Terkadang, Pak Rofiq antarkan aku pulang, ini bila anak-anak yang terbiasa diantar jemput oleh Pak Rofiq. Dan sebaginya. Pak Rofiq memang berhasil mencuri perhatian hampir setiap anak TK Al Izzah. Termasuk anakku.

DSC01808
Pak Rofiq

Pada sebuah kesempatan kami pernah berbincang mengenai banyak hal. Salah satunya tentang harapan-harapan yang dimiliki oleh Pak Rofiq. Mimpi yang sama seperti Pak Mayar dan Pak Madi pun kembali kutemukan di diri Pak Rofiq. Menjadi PNS. Itulah harapan tertinggi Pak Rofiq. Puncak keinginannya sebagai seorang kepala keluarga. *** Berbincang dengan Pak Mayar, Pak Madi dan Pak Rofiq melahirkan sebuah tanya. Apakah mimpi-mimpi mereka ini bisa terwujud? Pak Mayar, beliau sendiri sudah mengakui bila tidak sanggup mengerjakan tes CPNS. Pak Madi? Usia beliau jauh lebih tua dari Pak Mayar tapi belum pernah mengikuti tes-tes CPNS. Dan Pak Rofiq? Beliau ini bukanlah honorer seperti Pak Mayar dan Pak Madi. Usianya terbilang muda, namun adakah peluang untuk mengubah status pegawai swastanya menjadi seorang PNS? Berapa banyakkah kasus yang serupa dengan ketiga bapak di atas? Kenyataannya tiap kali pendaftaran CPNS dibuka maka jutaan peminat siap menyambut. Berapa banyak yang akan diterima? Kasus eks honorer k2 misalnya. Bila pada tahun lalu eks honorer kategori 2 memperoleh angin segar dari bapak menteri PANRB, maka tahun ini mereka harus menelan pil pahit. Pasalnya Undang-Undang no 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara tidak memungkinkan Pak Yuddy untuk meloloskan 440 ribu tenaga eks honorer k2 langsung menjadi PNS. honorer Terhadangnya pengangkatan eks honorer K2 menjadi PNS adalah berita tak sedap yang harus ditelan paksa, namun disisi lain kejutan manis dterima oleh ribuan pegawai bagian tata usaha (TU) operator dan penjaga sekolah negeri wilayah Provinsi DKI Jakarta termasuk 11.049 honorer K2.title1

Pada awal tahun ini mereka bisa bernapas lega dengan adanya peningkatan kesejahteraan tenaga honorer di sekolah-sekolah negeri. Gaji setara UMP yaitu sebesar 3,1 juta rupiah bisa mereka peroleh tiap bulannya. Dan ini kuharap menjadi kabar baik bagi Pak Mayar dan Pak Madi. Meski keinginannya belum bisa terwujud, tapi kuharap Upah Minimum Provinsi mampu menutupi rasa kecewa mereka.

***

Pak Mayar, Pak Madi, dan Pak Rofiq, mungkin mereka memang pegawai-pegawai rendahan. Tetapi fungsionalitas mereka di lingkungan sekolah sangat bermanfaat bagi keamanan, kententraman dan ketertiban sekolah itu sendiri. Tampaknya apa yang mereka kerjakan sepele. Tapi bila satu saja entitas ini tak ada, maka dampaknya akan langsung dirasakan oleh warga sekolah.

Mari kubawa kalian berkaca pada sosok Bang EKa. Beliau tidak memiliki jabatan apa pun di SDN Pulogebang 02. Bang Eka hanya bertugas secara suka rela menyeberangkan siswa siswi SDN Pulogebang 02. Tapi apa yang terjadi ketika Bang Eka pergi untuk selama-lamanya?

Wali murid kebingungan menghadapi carut marut lalu lintas di muka sekolah. Orang tua cemas membayangkan anak-anak mereka menyeberang tanpa dikawal. Muka sekolah menjadi amburadul. Dan menyeberangi jalan raya di muka sekolah kian sukar. Lain halnya bila Bang Eka berdiri di tengah jalan sembari menghadang lajunya kendaraan. Tentu banyak kemudahan akan didapat oleh siswa siswi sekolah. Sayang, kini Bang Eka sudah tidak bisa melakukannya lagi. Karena di awal tahun ini beliau telah pulang ke peristirahatan terakhirnya.

***

Menjadi PNS adalah harapan dari ketiga “penjaga sekolah” ini. Pak Mayar dan Pak Madi tak bisa dibilang muda. Namun asa untuk menggapainya tak pernah kandas. Kemudahan-kemudahan meraih mimpi menjadi sebuah permohonan bagi ketiganya. Tapi tak lantas menabrak beragam peraturan. Keinginan mereka mungkin memang belum terwujud, namun tak serta merta terhempas begitu saja. Karena tanpa adanya harapan apalah artinya hidup.

#Tulisan ini tadinya ingin diikut sertakan untuk sebuah lomba tentang local hero, tapi aku batalkan. Dan menulis ini, kembali mengenang almarhum Bang Eka. Semoga beliau mendapat tempat yang baik di alam yang baru. Amin.

Tabik!

10 Comments

  1. Tokoh yang sangat menginspirasi, meskipun penjaga sekolah tapi pengabdiannya luar biasa. Duh memang ya zaman sekarang tes masuk cpns tu sulit banget. Soal ujiannya jg susah. mari banyak2 bersyukur saja

  2. Kasian bang eka :(. Memang kadang dunia kejam pada mereka yang memiliki andil besar dalam kehidupannya. Suamikupun pengen jadi pns, tapi selalu kalah sama lulusan baru yg kadang petantang petenteng dan kurang menghargai pekerja yg sudah lama dari pada mereka. Begitu curhat suamiku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *