Uncategorized

Rumah

Bismillah.

Allah berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Ingatlah ketika Tuhanmu mengumumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).

Sekali waktu kukatakan kepada anak-anakku , ‘bersyukurlah maka rezeki akan bertambah’. Kukatakan kepada mereka jika itu adalah janji Allah Azza wa Jalla. Sejatinya nasihat itu berlaku juga untuk ibunya. Karena tak jarang rezeki kerap kuanalogikan sebagai harta benda. Layaknya sebuah rumah yang bertumbuh. Maka tiap pertumbuhan pada rumah tersebut adalah rezeki bagiku. Tak salah memang aku beranggapan seperti itu. Tapi betapa sempitnya pemahamanku soal rezeki.

Rasanya pemikiran yang kerdil menghambat kita berkembang. Namun jangan pula kebablasan dalam berpikir karena itu bisa menjadi bumerang nantinya. Ah, aku sudah macam orang yang fasih dalam berkata. Nyatanya aku kerap terbata-bata dalam banyak hal. Semacam sebuah rumah yang patut direnovasi dibeberapa sisi. Begitupun otakku perlu peremajaan baik dalam berkata maupun dalam mengolah sebuah makna.

Hunian Idaman

Hunian idaman bagiku layaknya sebuah istana. Besar, megah dan mewah. Dilengkapi kolam renang serta halaman nan luas. Atau sebuah rumah nan mungil namun ditiap sisi dipoles oleh modernitas. Ya, cukuplah kecil saja tapi dia berdiri dengan cantik dan anggun, memesona banyak mata. Begitulah gambaran sebuah rumah dalam anganku.

Lantas seperti apakah hunian idaman bagimu? Apakah sebuah rumah nan megah dengan halaman nan luas? Atau sebuah rumah mungil namun dengan desain kekinian? Apapun itu, sah-sah saja. Tak ada salahnya membangun hunian yang sesuai selera. Namun apakah rumahmu sudah memberimu rasa cukup?

Bagiku menghadirkan rasa cukup itu tak mudah. Gempuran kekinian dan keinginan yang tak pernah usai menjadi kolaborasi yang sulit untuk dipatahkan. Ketika satu harap terkabulkan biasanya akan muncul hasrat yang lain. Begitu terus tanpa batas waktu yang ditentukan. Cape dan lelah bila hasrat-hasrat duniawi ini terus diikuti.

Qanaah

Qanaah adalah merasa cukup terhadap apa yang diberikan Allah subhanallahu wa ta’ala kepada kita. Bagiku qanaah merupakan solusi dalam melawan nafsu duniawi. Rasa cukup ini memberikan ketenangan hati. Pun dalam Islam kita diajarkan untuk qanaah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela orang yang selalu merasa kurang. Beliau bersabda,

لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Andai manusia memiliki satu lembah emas, dia akan mengejar untuk memiliki dua lembah. Dan tidak ada yang memenuhi mulut manusia, kecuali tanah. Dan Allah menerima taubat bagi mereka yang rajin bertaubat. (HR. Bukhari 6439 & Muslim 1048).

Memiliki keinginan itu sangat manusiawi. Jika kita tidak memiliki nafsu maka akan serupa dengan malaikat. Namun ketika keinginan-keinginan ini melalaikan kita terhadapa rasa cukup maka bagiku itulah siksa dunia.

Pun begitu untuk sebuah rumah. Jika aku mengikuti nafsu maka aku selalu melihat ada saja sisi yang kurang pada rumahku. Rumah sejatinya untuk kita berteduh dari hujan dan panas. Rumah akan terasa nyaman jika didalamnya hanya berisikan ketakwaan kepada Allah Azza wa jala. Ketakwaan dan Qanaan menjadi lawan tangguh dari keinginan dan kekinian.

اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

“Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina.” Artinya: Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina.

Sumber https://rumaysho.com/968-doa-meminta-ketakwaan-dan-sifat-qonaah.html

Adalah doa dan iktiar (usaha). Bila istikamah terhadap dua hal ini hati menjadi tenang. Berdoa lalu berikhtiarlah terhadap semua hal. Lakukan segala daya dan upaya untuk setiap kebaikan. Setelah itu bertawakallah. Maka memangkas keinginan insyaAllah bisa.

selanjutnya usaha. Awal 2018. Tepatnya tanggal 14 Januari, di timurnya Jakarta mobil kami melaju menuju rumah. Saat itu aku usai melahirkan anak ketigaku. Tak jarang sepanjang perjalanan aku terdiam saat mataku menangkap ragam keceriaan. Satu yang menarik adalah sajian kegembiraan di tepi jalanan. Dari sisi ekonomi mereka tampak termarginalkan. Meski tempat tinggal seadanya namun tampaknya itu bukanlah masalah bagi mereka. Tawa-tawa bahagia dapat kutemui dengan mudah.

Nikmat yang merupakan pemberian atau karunia dari Alah itu sangat beragam bentuknya. Apalagi zaman pandemi seperti saat ini. Kini aku kian sadar bila jiwa dan raga nan sehat itu rezeki yang tak ternilai. Langka dan mahal. Jika rumah memerlukan sebuah konsep untuk membangunnya, maka otakku memerlukan landasan untuk mengambil sebuah keputusan tentang apapun itu. Ya, semacam rumah yang memiliki pondasi, maka otakku pun sama mesti Alhamdulillah jika dititik ini aku masih diberi kesempatan untuk menulis dan berpikir. Bersyukurlah maka nikmat akan bertambah. Untuk bisa menuliskan betapa aku bersyukur dengan kondisiku saat ini. Bila rumah memerlukan sebuah konsep

Bersyukurlah bagi kalian yang memiliki tempat tinggal yang nyaman. Rumah yang bisa melindungi kita dari sengatan matahari. Ketika kita disuguhkan oleh beragam tipe dan model rumah yang

Referensi: https://konsultasisyariah.com/17140-amalan-ketika-menempati-rumah-baru.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *